Senin, 14 Mei 2012

Masuk Surga Dengan Merangkak




Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman .
[QS huud 120]
Pada suatu hari, saat kota Madinah sunyi senyap, debu yang sangat tebal mulai mendekat dari berbagai penjuru kota hingga nyaris menutupi ufuk. Debu kekuning-kuningan itu mulai mendekati pintu-pintu kota Madinah. Orang-orang menyangka itu badai, tetapi setelah itu mereka tahu bahwa itu adalah kafilah dagang yang sangat besar. Jumlahnya 700 unta penuh muatan yang memadati jalanan Madinah.

Orang-orang segera keluar untuk melihat pemandangan yang menakjubkan itu, dan mereka bergembira dengan apa yang dibawa oleh kafilah itu berupa kebaikan dan rizki. Ketika Ummul Mukminin Aisyah RHA mendengar suara gaduh kafilah, maka dia bertanya, "Apa yang sedang terjadi di Madinah?" Ada yang menjawab, "Ini kafilah milik Abdurrahman bin Auf RA yang baru datang dari Syam membawa barang dagangan miliknya." Aisyah bertanya, "Kafilah membuat kegaduhan seperti ini?"

Mereka menjawab, "Ya, wahai Ummul Mukminin, kafilah ini berjumlah 700 unta." Ummul Mukminin menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian berkata, "Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Aku bermimpi melihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merangkak'."

Sebagian sahabatnya menyampaikan berita ini kepadanya. Ia teringat bahwa ia pernah mendengar hadits ini dari Nabi SAW lebih dari sekali, dan dengan lafazh yang berbeda-beda. Ia pun melangkahkan kakinya menuju rumah Ummul Mukminin Aisyah RHA dan berkata kepadanya, "Sungguh engkau telah menyebutkan suatu hadits yang tidak akan pernah aku lupa-kan."

Kemudian ia berkata, "Aku bersaksi bahwa kafilah ini berikut muatan dan pelananya, aku infakkan di jalan Allah SWT."

Muatan 700 unta itu pun dibagi-bagikan kepada penduduk Madinah dan sekitarnya dalam "pesta besar". Itulah Abdurrahman bin Auf, seorang pedagang sukses, orang kaya raya, mukmin yang mahir... yang menolak bila kekayaannya itu menjauhkannya dari khafilah iman dan pahala surga. Bagaimana tidak? Sedangkan ia adalah salah seorang dari delapan orang yang telah lebih dahulu masuk Islam, dan termasuk salah seorang yang diberi kabar gembira dengan surga.

Ketika Rasulullah SAW mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar, beliau mempersaudarakan antara Abdurrahman bin Auf dengan Sa'd bin ar-Rabi' RA. Mengenai hal itu, Anas bin Malik RA menuturkan, "Sa'd berkata kepada Abdurrahman, 'Wahai saudaraku, aku adalah penduduk Madinah yang paling banyak hartanya, lihatlah separuh hartaku lalu ambillah. Aku punya dua istri, lihatlah mana di antara keduanya yang paling engkau kagumi, maka aku akan menceraikannya untuk engkau nikahi.' Abdurrahman bin Auf menjawab, 'Semoga Allah memberkahimu berkenaan dengan keluargamu dan hartamu... Tunjukkanlah padaku letak pasar.' Lalu ia pergi ke pasar, lalu membeli dan menjual serta mendapatkan keuntungan."

Ia pernah mendengar Rasulullah  bersabda kepadanya pada suatu hari,

يَا ابْنَ عَوْفٍ، إِنَّكَ مِنَ اْلأَغْنِيَاءِ، وَإِنَّكَ سَتَدْخُلُ الْجَنَّةَ حَبْوًا، فَأَقْرِضِ اللهَ يُطْلِقْ لَكَ قَدَمَيْكَ

"Wahai Ibnu Auf, sesungguhnya kamu termasuk kaum yang kaya raya, dan kamu akan masuk surga dengan merangkak. Oleh karena itu, pinjamkanlah suatu pinjaman kepada Allah sehingga Allah membebaskan kedua telapak kakimu." (HR. al-Hakim,)

Sejak saat itu, ia memberi pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik, sehingga Allah melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Suatu hari ia menjual tanah seharga 40.000 dinar, kemudian membagikan semuanya untuk keluarganya yaitu Bani Zahrah, untuk Ummahatul Mukminin, dan kaum fakir dari kalangan kaum muslimin. Suatu hari ia memberikan untuk pasukan kaum muslimin se-banyak 500 kuda. Pada hari yang lain, ia memberikan sebanyak 1500 unta. Ketika meninggal, ia mewasiatkan sebanyak 50.000 dinar di jalan Allah. Ia mewasiatkan untuk masing-masing orang yang masih hidup dari peserta perang Badar mendapat-kan 400 dinar di jalan Allah. Sampai-sampai Imam Syahid Utsman bin Affan RA mengambil bagiannya dari wasiat tersebut seraya berkata, "Harta Abdurrahman adalah halal dan bersih, dan menikmati harta tersebut menjadi kesembuhan dan keberkahan."

Karena itu dia berkata, "Penduduk Madinah semuanya adalah sekutu Ibnu Auf berkenaan dengan hartanya... karena sepertiganya ia pinjamkan kepada mereka, sepertiganya untuk membayarkan hutang mereka, dan sepertiganya lagi ia sampai-kan dan berikan kepada mereka."

Suatu hari ia dibawakan makanan untuk berbuka, karena ia berpuasa. Ketika kedua matanya melihat makanan itu dan mengundang seleranya, ia menangis seraya berkata, "Mush'ab bin Umair gugur syahid dan ia lebih baik daripada aku, lalu ia dikafani dengan selimut. Jika kepalanya ditutupi, maka kedua kakinya kelihatan dan jika kedua kakinya ditutupi, maka kepalanya kelihatan. Hamzah gugur sebagai syahid dan ia lebih baik daripada aku. Ia tidak mendapatkan kain untuk mengkafaninya selain selimut. Kemudian dunia dibentangkan kepada kami, dan dunia diberikan kepada kami sedemikian rupa. Aku khawatir bila pahala kami telah disegerakan kepada kami di dunia."

Pada suatu hari sebagian sahabatnya berkumpul untuk me-nyantap makanan di kediamannya. Ketika makanan dihidangkan di hadapan mereka, maka ia menangis. Mereka bertanya, "Apa yang membuatmu menangis, wahai Abu Muhammad?" Ia menjawab, "Rasulullah SAW telah meninggal dalam keadaan beliau berikut ahli baitnya belum pernah kenyang makan roti gandum... Aku tidak melihat kita diakhirkan, karena suatu yang lebih baik bagi kita."



Pada tahun 32 H., Ibnu Auf menghembuskan nafas terakhirnya. Ummul mukminin Aisyah RHA ingin memberikan penghar-gaan khusus kepadanya yang tidak pernah diberikannya kepada selainnya. Aisyah menawarkan kepadanya, pada saat Ibnu Auf berbaring di atas ranjang kematiannya, untuk dikuburkan di kamarnya di sisi Rasul SAW, Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin al-Khaththab RA. Tetapi ia seorang muslim yang terdidik dengan sangat baik oleh keislamannya, sehingga ia merasa malu mengangkat dirinya kepada derajat seperti ini. Apalagi ia punya perjanjian yang sangat kuat bersama Utsman bin Mazh'un RA, ketika keduanya mengadakan perjanjian pada suatu hari, bahwa siapa di antara keduanya yang mati belakangan, maka ia diku-burkan di dekat sahabatnya.

Ketika ruhnya siap untuk melakukan perjalanan baru, maka kedua matanya mengalirkan air mata, dan lisannya berucap, "Sesungguhnya aku takut tertahan untuk berjumpa sahabat-sahabatku karena banyaknya harta yang aku miliki."

Tetapi Allah SWT menurunkan ketentramanNya, dan wajahnya berbinar-binar dengan cahaya. Seolah-olah ia mendengar sesuatu yang menyejukkan yang dekat dengannya. Sepertinya ia mendengar suara sabda Rasul SAW di masa lalu, "Abdurrahman bin Auf masuk surga."

Sepertinya ia mendengar janji Allah dalam Kitab SuciNya, "Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemu-dian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Rabb mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (Al-Baqarah: 262).


Wallahu a'lam bishowab
By ahmad muslimin



Ahlussunnah Wal Jamaah



Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.[QS attaubah 100]
Pada hakekatnya, Ahlussunnah wal Jamaah, adalah ajaran Islam yang murni sebagaimana diajarkan dan diamalkan oleh Rasulullah saw. bersama para sahabatnya.
Ketika Rasulullah saw. menerangkan bahwa umatnya akan tergolong menjadi banyak sekali (73) golongan, beliau menegaskan bahwa yang benar dan selamat dari sekian banyak golongan itu hanyalah Ahlussunnah wa Jamaah. Atas pertanyaan para sahabat mengenai definisi as-Sunah wal Jamaah, beliau merumuskan dengan sabdanya:
ما انا عليه اليوم واصحابى
"Apa yang aku berada di atasnya, hari ini, bersama para sahabatku".
Ahlussunnah wal Jamaah adalah golongan pengikut setia pada al-Sunnah wa al-Jamaah, yaitu ajaran Islam yang diajarkan dan diamalkan Oleh Rasulullah saw. bersama para sahabatnya pada zamannya itu.
Ahlussunnah wal Jamaah bukanlah suatu yang baru timbul sebagai reaksi dari timbulnya beberapa aliran yang menyimpang dari ajaran yang murni seperti Syiah, Khawarij, Mu'tazilah dan sebagainya. As-Sunnah wal Jamaah sudah ada sebelum semuanya itu timbul. Aliran-aliran itulah yang merupakan gangguan terhadap kemurnian as-Sunnah wal Jamaah. Setelah gangguan itu membadai dan berkecamuk, dirasakan perlunya predikat Ahlussunnah wal Jamaah, dipopulerkan oleh kaum muslimin yang tetap setia menegakkan as-Sunnah wal Jamaah, mempertahankannya dari segala macam ganguan yang ditimbulkan oleh aliran-aliran yang mengganggu itu. Mengajak seluruh pemeluk islam untuk kembali kepada as-Sunnah wal Jamaah.
Peranan para Sahabat 
Para sahabat, generasi yang hidup sezaman dengan Rasulullah saw. adalah generasi yang paling menghayati as-Sunnah wal Jamaah. Mereka dapat menerima langsung ajaran agama dari tangan pertama. Kalau ada yang belum jelas, dapat menanyakan langsung pula kepada Rasulullah saw. terutama al-Khulafa ar-Rosyidun:
  • sahabat Abu Bakar as-Shiddiq ra, 
  • sahabat Umar bin Khatab ra, 
  • sahabat Utsman bin Affan ra, 
  • dan Sahabat Ali bin Abi Thalib ra.
Memang para sahabat adalah manusia biasa yang tidak memiliki wewenang Tasyri' (تشر يع = membentuk atau mengadakan hukum). Tetapi di dalam tathabiq (تطبيق = menerapkan prinsip-prinsip pada perumusan sikap dan pendapaat yan kongkret), peranan mereka tidak dapat dikesampingkan karena hanya ada kritik atau koreksi dari seseorang atau kelompok orang manusia biasa pula yang jarak zamannya sedemikian jauh dengan zaman Rasulullah saw. dan kemampuan penghayatannya terhadap as-sunnah wal Jamaah sulit diyakini melebihi kemampuan para sahabat.
Rasulullah saw. bersabda:
عليكم بسنتى وسنة الخلفاء الراشدين المهديين
"Haruslah kamu sekalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah para Khulafa ar-Rasyidin yang mendapat petunjuk." (HR. Ahmad)
 bahwa al-Mahdiyyin (yang mendapat petunjuk) adalah sifat menerangkan kenyataan bukan sifat yang merupakan syarat yang membatasi. Artinya, memang semua Khulafa ar-Rosyidin itu, tanpa diragukan lagi adalah orang-orang yang mendapat petunjuk, bukan orang-orang yang sebagian mendapat petunjuk dan sebagian tidak. المهديين adalah sifat kata الخلفاء bukan sifat kata: سنة . Bahkan, jumhur ulama berpendapat bahwa para sahabat Rasulullah saw. adalah para tokoh yang diyakini kejujurannya didalam masalah penyampaian ajaran agama. Keragu-raguan terhadap kejujuran para sahabat merupakan salah satu bahaya bagi kemantapan saluran ajaran agama, apa alagi terhadap Khulafa ar-Rosyidin al-Mahdiyyin. Keraguan tersebut akan mengacaukan, mengaburkan dan mengeruhkan jalur-jalur yang harus ditelusuri sampai kepada as-Sunnah dan al-Qur'an.
Para sahabat yang mendengar ucapan, melihat perbuatan dan menghayati sikap (taqrir) Rasulullah saw. kemudian ucapan, perbuatan dan sikap Rasulullah saw itu dikumpulkan, dicatat dan dikodifikasikan. Para sahabat pula yang mendengar dan mencatat Rasulullah saw., membaca ayat-ayat al-Qur'an, kemudian dikumpulkan dan disusun menjadi mushaf yang sampai sekarang kita yakini sebagau mushaf al-Qur'an yang otentik.
Selain dalil-dalil qauli (bersifat ucapan) yang memberi kesaksian Rasulullah saw. atas kemampuan penghayatan para sahabat terhadap apa yang diajarkan oleh beliau, terdapat pula dalil-dalil yang sekaligus qauli dan fi'li (bersifat perbuatan tindakan). Beliau merestui beberapa sahabat melakukan ijtihad (mengerahkan daya pikir untuk mendapat kesimpulan pendapat berdasarkan atas pemahaman dan peghayatan terhadap nash al-Qur'an dan al-Hadits). Yang paling terkenal ialah ketika Rasulullah saw. mengutus sahabat Mu'adz bin Jabal ra. ke Yaman. Atas pertanyaan Rasulullah saw., sahabat Mu'adz ra memberi jawaban yang dapat dirumuskan:
  1. Kalau sesuatu masalah ada dalilnya yang jelas didalam al-Qur'an, maka keputusan hukum diambil berdasarkan al-Qur'an
  2. Kalau tidak terdapat dalam al-Qur'an dan terdapat didalam as-Sunnah, maka diambil berdasarkan as-Sunnah
  3. Kalau tidak terdapat dalil yang jelas didalam al-Qur'an dan juga tidak terdapat didalam as-Sunnah, maka keputusan hukum diambil berdasarkan ijtihad (hasil daya pikir).
Pasti dapat diyakinkan oleh setiap pemeluk Islam, bahwa para sahabat bukanlah sekelompok orang yang dibina oleh Rasulullah saw. hanya untuk diri mereka sendiri tanpa berkelanjutan peranannya. Pasti para sahabat adalah generasi pertama kaum muslimin mengemban tugas melanjutkan missi dan perjuangan Rasulullah saw. mengembangkan ajaran agama Islam ke seluruh pelosok dunia kepada segenap umat manusia.
Allah berfirman:
وَمَآ أَرْسَلْنَٟكَ إِلَّا كَآفَّةًۭ لِّلنَّاسِ بَشِيرًۭا وَنَذِيرًۭا وَلَٟكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ ﴿٢٨﴾
"Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Tetapi kebanyakan manusia tidak mengerti". (QS. As-Saba: 28)
Pasti para sahabat adalah pembawa cahaya Islam yang diterima dari Rasulullah saw. kepada generasi-generasi sesudahnya.
Rasulullah saw bersabda:
اصحابى كالنجوم بايهم اقتديتم اهدينتم
"Para sahabatku adalag ibarat bintang-bintang. Dengan siapa pun di antara mereka kamu sekalian ikut, maka kamu akan mendapat petunjuk".
Para sahabat, pasti bukan sekedar pembawa rekaman ayat-ayat al-Qur'an dan as-Sunnah saja, tetapi sekaligus adalah juga pembawa pentauladanan, penjelasan dan pendapat mengenai arti ayat al-Qur'an dan al-Hadits itu sesuai dengan penghayatannya.
Generasi sesudah Sahabat
Sesudah generasi sahabat, tugas melanjutkan missi dan perjuangan Rasulullah SAW. diterima oleh generasi baru yang disebut tabi'in (تابعين = para pengikut). Selanjutnya ganti berganti, berkesinambungan generasi demi generasi menerima misi dan perjuangan itu, para tabi'in, para Imam Mujtahidin, para Ulama Shalihin, dari zaman ke zaman.
Kalau pengumpulan dan penyusunan catatan-catatan ayat-ayat al-Qur'an sampai menjadi sebuah mushaf yang otentik sudah terselesaikan pada zaman sahabat, maka pengumpulan Hadits baru dirintis dan dilakukan oleh para tabi'in. selanjutnya seleksi, kategorisasi, sistematisasinya digarap dan dirampungkan oleh generasi-generasi sesudahnya. Segala macam syarat, sarana dan metode untuk menyimpulkan pendapat yang benar dan murni dari al-Qur'an dan al-Hadits diciptakan dan dikembangkan. Mulai dari ilmu-ilmu bahasa Arab, Nahwu, Sharraf, Ma'ani, Badi', dan Bayan sampai kepada ilmu mantiq (logika) dan filsafat, dirangkaikan dengan ilmu tafsir, ilmu Mushthalahul Hadits sampai kepada Ushul Fiqh dan al-Qowa'id al-Fiqhiyah. Semuanya dimaksudkan untuk dapat mencapai kemurnian ajaran as-Sunnah wal Jamaah.
Bukan hanya guna mendapatkan ilmunya untuk diamalkan sendiri, tetapi sekaligus juga segala ilmu yang didapat itu di siarkan, di da'wahkan dan lebih dari untuk diamalkan oleh sebanyak mungkin umat.
Mereka as-Sabiqunal Awwalun ( السابقون الاولون = generasi terdahulu) itu bergerak ke segala penjuru dunia, dengan segala jerih payah, dengan penderitaan dan pengorbanan menyebarkan as-Sunnah wal Jamaah, Kaaffatan linnaas ( كافة للناس = kepada seluruh umat manusia). Tidak terkecuali ke tanah air Indonesia ini. Para Muballighin, atas resiko sendiri tanpa dukungan dari kekuasaan politik dan tanpa dukungan dari kekuatan materil yang berarti membawa as-Sunnah wal Jamaah itu kemari. Dengan tidak mengurangi penghargaan terhadap para Muballighin yang lain, tidaklah dapat dilewatkan menyebut jasa-jasa para wali Muballighin yang dikenal dengan istilah Wali Sanga, kelompok sembilan yang paling berkesan di dalam sejarah islam di Indonesia.
 wallohu a'lam bishowab

WANITA MULIA


                                                                                                                                                       

ALLOH swt berfirman :  “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia[QS.al isro’:23]

Sembilan bulan kita dalam perut ibu,dengan sangat berat dan payah kita selalu di bawa kemana ia pergi,bahkan tidur dengan keadaan yang tidak pernah nyenyak,makan tak pernah enak,dan dengan sekuat tenaga serta perjuangan jiwa raga ia taruhkan nyawanya demi kelahiran kita dengan keadaan sehat dan selamat,mungkin itulah sekelumit perjuangan seorang ibu untuk anak-anaknya,belum lagi ia harus terus terjaga di malam hari saat kita menangis rewel,di susui kita siang dan malam tanpa lelah dan letih,subhanalloh…… betapa mulia pengorbanan seorang ibu.  
sebagaimana dalam hadits di sabdakan:
جاء رجل الى رسول الله صلى الله عليه وسلم , فقال يا رسول الله ! من احق بحسن صحابتي ؟ قال : امك . قال : ثم من ؟ قال : امك . قال : ثم من ؟ قال : امك . قال . ثم من ؟ قال : ابوك    
yang  artinya: Dari Abu Hurairah dia berkata telah datang kepada Rasulullah saw seorang laki-laki lalu bertanya: “Wahai Rasulullah siapakah yg lbh berhak utk saya pergauli dengan baik?” Beliau menjawab “Ibumu” dia berta lagi “Kemudian siapa?” Beliau menjawab “Ibumu” dia berta lagi “Kemudian siapa?” Beliau menjawab “Ibumu” dia bertanya lagi “Kemudian siapa?” Beliau menjawab “Ayahmu”.

Dari isi Hadist terlihat betapa Allah melalui Rasulullah menilai besar pengorbanan orang tua kita terutama Ibu. Mungkin di sinilah yang biasa di katakan bahwa derajat ibu lebih tinggi tiga tingkat di banding ayah Apa yg sudah ibu berikan kepada anak tak dapat dibandingkan dgn apapun di dunia ini. Orang tua terutama ibu harus selalu kita hormati sepanjang hidup kita. Walaupun itu bukan orang tua kita sendiri. Kalau kita menghormati semua orang tua berarti kita menghormati orang tua kita. Begitu juga bila kita memaki orang tua yg bukan orang tua kandung maka berarti kita memaki orang tua kita sendiri. Memuliakan orang tua kita bukan dgn memberi harta yg berlimpah. Tetapi akhlak yg baik dari anak-anak sudah membuat orang tua kita damai dan senang. Harta tak dapat dibandingkan dgn kemuliaan akhlak yg baik. Kita sebagai anak harus memohon berjuang sekuat kepada Allah bila orang tua kita belum mendapat hidayah dari Allah. Dan kita harus selalu menerima segala kekurangan orang tua kita dgn lapang dada. 




Selain itu ibu juga akan menjadi tolak ukur kebaikan dan kejelekan seorang  anak,karena hanya ibu dengan kepandaian,ketulusan dan kesholehannyalah yang akan menjadikan anak-anak menjadi penerus bangsa yang sholeh dan sholihah,sebab pendidikan terbanyak  adalah dari seorang ibu,bayangkan saja,dari rahim berumur empat bulan seorang bayi yang baru di beri nyawa telah bisa mendengarkan apa apa yang  telah ibu katakan,Alloh telah berfirman dalam  alqur’an :
ثمّ سوّه ونفخ فيه من روحه وجعل لكم السمع والبصر والأفئدة قليلا ما تشكرون       
 Yang artinya : “Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur” [QS .as sajdah:9]
dan seorang penyair terkenal hafidz ibrohim mengatakan :
 اعددت شعبا طيب الأعراق الأم مدرسة ان اعددتها      
الأم استاذ الأستاذة الألى شفلت ما ثرهم مدى الأفاق                                          
 yang artinya ” ibu adalah ibarat madrasah,jika dia di siapkan dengan baik maka berarti menyiapkan generasi muda yang berkepribadian baik pula ,ibu adalah guru dari guru-guru yang utama yang memberikan bekas sepanjang masa.”
Ibu adalah kekuatan terdasyat dalam kehidupan manusia hingga akhir hayatnya,karena banyak sekali keberhasilan seseorang datang karena ridho dan do’a ibu,begitu juga kegagalan banyak terjadi karena kemurkaan dan kemarahan seorang ibu sebagaimana dalam hadits di sebutkan :
رضى الله فى رضى الوالدين و سخط الله فى سخط الوالدين
 Yang artinyaridho Alloh terletak pada ridho kedua orang tua dan murka Alloh terletak pada murka kedua orang tua”  
Sering sekali kita dengar cetrita malin kundang yang di kutuk ibunya menjadi batu karena kemurkaan  ibunya,begitu juga cerita seorang  yang bernama uwais  alqorni  seorang pemuda bermata biru berambut merah,pundaknya lapang panjang,berpenampilan cukup tampan,kulitnya kemerah-merahan dagunya menempel di dada selalu melihat tempat sujudnya tangan kanan nya menumpang pada tangan kirinya ahli membaca al qur’an pakaiannya hanya dua helai sudah kusut yang satu untuk menutup badan yang satunya untuk selendangan,tiada orang yang menghiraukannya karena dia juga hanya seorang yang  mengembalakan kambing yang mungkin upahnya tiada mencukupi untuk hidup sehari-hari bersama ibunya yang telah lumpuh,namun dengan kekurangannya tak menyurutkan  pengabdian uwais pada ibu dan pengabdiannya pada tuhannya Alloh azza wajalla,siang ia gunakan untuk puasa dan malam harinya ia gunakan munajat pada Alloh,hinga suatu hari wafatlah uwais seorang penggembala kambing yang sangat miskin itu,namun apa yang tejadi ? ketika jenazah uwais hendak di mandikan tiba-tiba telah banyak orang yang antri hendak memandikannya,dan ketika akan di bawa ke pembaringan ternyata telah banyak yang menunggu untuk mengkafaninya,demikian pula ketika hendak menggali pekuburannya ternyata sudah ada yang yang menggalinya hingga selesai, dan ketika usungan jenazah itu hendak di bawa ke perkuburan,luar biasa banyak orang yang berebut ingin membawanya,dan syeikh Abduloh bin salamah  seorang yang pernah ikut perang bersama uwais alqorni di masa kepemerintahannya sayyidina umar r.a menjelaskan “ ketika aku ikut mengurusi jenazah hingga aku pulang dari mengantarkan jenazah,lalu aku bermaksud kembali ke perkuburannya untuk memberi tanda pada kuburan tersebut,ternyata perkuburan itu sudah tak tak terlihat bekas ada perkuburan.subhanalloh… ternyata uwais al qorni yang di kenal orang-orang hanya seorang penggembala kambing yang fakir,namun dengan ridho ibunya ia menjadi seorang yang namanya telah di kenal di langit meskipun di bumi dia tiada terkenal.
Selain itu,sesungguhnya seorang ibu juga tidak pernah meninggalkan anaknya baik dalam keadaan senang apalagi susah meski anaknya telah tumbuh menjadi manusia dewasa dan mungkin telah berumah tangga, kita tahu kasih sayang ibu sepanjang jalan kasih sayang anak sepanjang penggalan,karna banyak orang yang telah sukses dan menjadi besar menjadikan ibunya sebagai pembantu di rumahnya atau baby sister bagi anak-anaknya,sungguh tidaklah pantas,karena besarnya pengorbanan ibu untuk anak-anaknya .
Rosululloh telah bersabda :
الجنة تحت من اقدام الأمهات
Yang artinya “surga berada di telapak kaki ibu
  jika kita mau berbakti kepadanya niscaya surgalah yang kita dapat,namun jika kita berani durhaka padanya maka neraka akan  menanti kita
Adapun adab-adab anak terhadap orang tua, dengan jelas Alloh berfirman :
وقضى ربك الا تعبدوا الا اياه وبالوالدين احسنا اما يبلغن عندك الكبر احدهما اوكلا هما فلا تقل لهما اف ولا تنهرهما وقل لهما قولا كريما
Yang artinya “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia[QS.al isro’:23]
Perintah Allah untuk berbuat baik kepada orang tua itu bersifat umum, mencakup hal-hal yang disukai oleh anak ataupun hal-hal yang tidak disukai oleh anak. Bahkan sampai-sampai al-Qur’an memberi wasiat kepada para anak agar berbakti kepada kedua orang tuanya meskipun mereka adalah orang-orang yang kafir.

ALLOH swt berfirman “Dan jika keduanya memaksamu untuk  mempersekutukan  dengan  Aku  sesuatu yang  tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergauilah keduanya di dunia dengan  baik,  dan  ikutilah jalan   orang   yang  kembali  kepada-Ku,  kemudian  hanya kepada-Ku lah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Luqman: 15)



والله أعلم بالصواب


Keutamaan Al-Qur`an








“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu.” (QS. Al-Maidah: 48)
Alqur’an adalah kitab paripurna dari seluruh kitab yang di turunkan sebelumnya.
Dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
 “Tidak boleh ada hasad (kecemburuan) kecuali pada dua hal. (Pertama) kepada seorang yang telah diberi Allah (hafalan) Al Qur`an, sehingga ia membacanya siang dan malam. (Kedua) kepada seorang yang dikaruniakan Allah harta kekayaan, lalu dibelanjakannya harta itu siang dan malam (di jalan Allah).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
 Rosululloh saw, bersabda :
Yang artinya: “sebaik baik dari kalian adalah orang yang mempelajari Al qur’an dan mengajarkannya” [H.R bukhori]
Dari ‘Aisyah radhiallahu anha dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Orang yang mahir membaca Al Qur`an, maka kedudukannya di akhirat ditemani oleh para malaikat yang mulia. Dan orang yang membaca Al Qur`an dengan tertatah-tatah, ia sulit dalam membacanya, maka ia mendapat dua pahala.” (HR. Muslim)
Dari Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
“Perumpamaan orang yang membaca Al Qur`an adalah seperti buah Utrujjah, rasanya lezat dan baunya juga sedap. Sedang orang yang tidak membaca Al Qur`an adalah seperti buah kurma, rasanya manis, namun baunya tidak ada. Adapun orang Fajir yang membaca Al Qur`an adalah seperti buah Raihanah, baunya harum, namun rasanya pahit. Dan perumpamaan orang Fajir yang tidak membaca Al Qur`an adalah seperti buah Hanzhalah, rasanya pahit dan baunya juga tidak sedap.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim )
Para malaikat juga ada yang mempunyai tugas khusus turun untuk mendengarkan bacaan orang yang membaca Al-Qur`an. Abu Said Al Khudri radhiallahu anhu bercerita:
 “Pada suatu malam, Usaid bin Hudlair membaca (surat Al Kahfi) di tempat penambatan kudanya. Tiba-tiba kudanya meloncat, ia membaca lagi, dan kuda itupun meloncat lagi. Kemudian ia membaca lagi, dan kuda itu meloncat kembali. Usaid berkata, “Saya khawatir kuda itu akan menginjak Yahya, maka aku pun berdiri ke arahnya. Ternyata (aku melihat) sepertinya ada Zhullah (sesuatu yang menaungi) di atas kepalaku, di dalamnya terdapat cahaya yang menjulang ke angkasa hingga aku tidak lagi melihatnya. Maka pada pagi harinya, aku menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, semalam saya membaca (Al Qur`an) di tempat penambatan kudaku namun tiba-tiba kudaku meloncat.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bacalah wahai Ibnu Hudlair.” Kemudian aku pun membacanya lagi, dan kuda itu juga meloncat kembali. Beliau bersabda: “Bacalah wahai Ibnu Hudlair.” Kemudian aku pun membacanya lagi, dan kuda itu juga meloncat kembali. Beliau bersabda lagi, “Bacalah wahai Ibnu Hudlair.” Ibnu Hudlair berkata; Maka sesudah itu, akhirnya saya beranjak. Saat itu Yahya dekat dengan kuda, maka saya khawatir kuda itu akan menginjaknya. Kemudian saya melihat sesuatu seperti Zhullah (sesuatu yang menaungi) yang di dalamnya terdapat cahaya yang naik ke atas angkasa hingga saya tidak lagi melihatnya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: “Itu adalah Malaikat yang sedang menyimak bacaanmu, sekiranya kamu terus membaca, niscaya pada pagi harinya manusia akan melihatnya dan Malaikat itu tidak bisa menutup diri dari pandangan mereka.”(HR. Muslim )
Disunnahkan untuk mendengarkan bacaan Al-Qur`an, meminta orang yang hafal untuk membacanya, menangis ketika membaca dan mendengarnya, serta mentadabburi kandungannya. Semua ini dipetik dari hadits Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu: berkata:
 “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku: “Bacakanlah Al Qur’an kepadaku! Aku berkata; Bagaimana aku membacakan kepadamu, padahal Al Qur’an diturunkan kepadamu? Beliau menjawab: “Sesungguhnya aku suka mendengarkannya dari orang lain.” Lalu aku membacakan kepada beliau surat An Nisa` hingga tatkala sampai ayat, “Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu.” (QS. An Nisa`: 41).” Beliau berkata, ‘Cukup.’ Dan ternyata beliau mencucurkan air mata (menangis).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Ini adalah keutamaan umum untuk semua ayat dalam Al-Qur`an. Hanya saja ada dalil-dalil khusus yang menyebutkan keutamaan sebagian surah dalam Al-Qur`an, di antaranya:
a.    Keutamaan Al-Fatihah.
Dari Abu Sa’id bin Al Mu’alla radhiallahu anhu dia berkata:


“Suatu saat saya sedang melaksanakan shalat di masjid, tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memanggilku namun saya tidak menjawab panggilannya hingga shalatku selesai. Setelah itu, saya menemui beliau dan berkata; “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sesungguhnya pada waktu itu saya sedang shalat.” Beliau bersabda: “Bukankah Allah ‘azza wajalla telah berfirman; ‘Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu.’” Beliau bersabda lagi: “Sungguh, saya akan mengajarimu tentang surat yang paling agung yang terdapat di dalam Al Qur`an sebelum kamu keluar dari Masjid.” Kemudian beliau memegang tanganku, dan saat beliau hendak keluar Masjid, saya pun berkata; “Bukankah engkau berjanji; ‘Saya akan mengajarimu surat yang paling agung yang terdapat di dalam Al Qur`an.’ Beliau menjawab; (Yaitu surat) AL HAMDU LILLAHI RABBIL ‘AALAMIIN (Segala puji bagi Allah, Rabb semesta Alam), ia adalah As Sab’u Al Matsani, dan Al Qur`an Al Azhim yang telah diwahyukan kepadaku.” (HR. Al-Bukhari )
b.    Keutamaan Al-Baqarah dan Ali Imran.
Abu Umamah Al Bahili radhiallahu anhu berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Bacalah Al Qur`an, karena ia akan datang memberi syafa’at kepada para pembacanya pada hari kiamat nanti. Bacalah Zahrawain, yakni surat Al Baqarah dan Ali Imran, karena keduanya akan datang pada hari kiamat nanti, seperti dua tumpuk awan menaungi pembacanya, atau seperti dua kelompok burung yang sedang terbang dalam formasi hendak membela pembacanya. Bacalah Al Baqarah, karena dengan membacanya akan memperoleh barokah, dan dengan tidak membacanya akan menyebabkan penyesalan, dan para penyihir tidak mampu membacanya.” (HR. Muslim )
wallohu a’lam bishshowab.


“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu.” (QS. Al-Maidah: 48)
Alqur’an adalah kitab paripurna dari seluruh kitab yang di turunkan sebelumnya.
Dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
 “Tidak boleh ada hasad (kecemburuan) kecuali pada dua hal. (Pertama) kepada seorang yang telah diberi Allah (hafalan) Al Qur`an, sehingga ia membacanya siang dan malam. (Kedua) kepada seorang yang dikaruniakan Allah harta kekayaan, lalu dibelanjakannya harta itu siang dan malam (di jalan Allah).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
 Rosululloh saw, bersabda :
Yang artinya: “sebaik baik dari kalian adalah orang yang mempelajari Al qur’an dan mengajarkannya” [H.R bukhori]
Dari ‘Aisyah radhiallahu anha dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Orang yang mahir membaca Al Qur`an, maka kedudukannya di akhirat ditemani oleh para malaikat yang mulia. Dan orang yang membaca Al Qur`an dengan tertatah-tatah, ia sulit dalam membacanya, maka ia mendapat dua pahala.” (HR. Muslim)
Dari Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
“Perumpamaan orang yang membaca Al Qur`an adalah seperti buah Utrujjah, rasanya lezat dan baunya juga sedap. Sedang orang yang tidak membaca Al Qur`an adalah seperti buah kurma, rasanya manis, namun baunya tidak ada. Adapun orang Fajir yang membaca Al Qur`an adalah seperti buah Raihanah, baunya harum, namun rasanya pahit. Dan perumpamaan orang Fajir yang tidak membaca Al Qur`an adalah seperti buah Hanzhalah, rasanya pahit dan baunya juga tidak sedap.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim )
Para malaikat juga ada yang mempunyai tugas khusus turun untuk mendengarkan bacaan orang yang membaca Al-Qur`an. Abu Said Al Khudri radhiallahu anhu bercerita:
 “Pada suatu malam, Usaid bin Hudlair membaca (surat Al Kahfi) di tempat penambatan kudanya. Tiba-tiba kudanya meloncat, ia membaca lagi, dan kuda itupun meloncat lagi. Kemudian ia membaca lagi, dan kuda itu meloncat kembali. Usaid berkata, “Saya khawatir kuda itu akan menginjak Yahya, maka aku pun berdiri ke arahnya. Ternyata (aku melihat) sepertinya ada Zhullah (sesuatu yang menaungi) di atas kepalaku, di dalamnya terdapat cahaya yang menjulang ke angkasa hingga aku tidak lagi melihatnya. Maka pada pagi harinya, aku menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, semalam saya membaca (Al Qur`an) di tempat penambatan kudaku namun tiba-tiba kudaku meloncat.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bacalah wahai Ibnu Hudlair.” Kemudian aku pun membacanya lagi, dan kuda itu juga meloncat kembali. Beliau bersabda: “Bacalah wahai Ibnu Hudlair.” Kemudian aku pun membacanya lagi, dan kuda itu juga meloncat kembali. Beliau bersabda lagi, “Bacalah wahai Ibnu Hudlair.” Ibnu Hudlair berkata; Maka sesudah itu, akhirnya saya beranjak. Saat itu Yahya dekat dengan kuda, maka saya khawatir kuda itu akan menginjaknya. Kemudian saya melihat sesuatu seperti Zhullah (sesuatu yang menaungi) yang di dalamnya terdapat cahaya yang naik ke atas angkasa hingga saya tidak lagi melihatnya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: “Itu adalah Malaikat yang sedang menyimak bacaanmu, sekiranya kamu terus membaca, niscaya pada pagi harinya manusia akan melihatnya dan Malaikat itu tidak bisa menutup diri dari pandangan mereka.”(HR. Muslim )
Disunnahkan untuk mendengarkan bacaan Al-Qur`an, meminta orang yang hafal untuk membacanya, menangis ketika membaca dan mendengarnya, serta mentadabburi kandungannya. Semua ini dipetik dari hadits Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu: berkata:
 “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku: “Bacakanlah Al Qur’an kepadaku! Aku berkata; Bagaimana aku membacakan kepadamu, padahal Al Qur’an diturunkan kepadamu? Beliau menjawab: “Sesungguhnya aku suka mendengarkannya dari orang lain.” Lalu aku membacakan kepada beliau surat An Nisa` hingga tatkala sampai ayat, “Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu.” (QS. An Nisa`: 41).” Beliau berkata, ‘Cukup.’ Dan ternyata beliau mencucurkan air mata (menangis).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Ini adalah keutamaan umum untuk semua ayat dalam Al-Qur`an. Hanya saja ada dalil-dalil khusus yang menyebutkan keutamaan sebagian surah dalam Al-Qur`an, di antaranya:
a.    Keutamaan Al-Fatihah.
Dari Abu Sa’id bin Al Mu’alla radhiallahu anhu dia berkata:


“Suatu saat saya sedang melaksanakan shalat di masjid, tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memanggilku namun saya tidak menjawab panggilannya hingga shalatku selesai. Setelah itu, saya menemui beliau dan berkata; “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sesungguhnya pada waktu itu saya sedang shalat.” Beliau bersabda: “Bukankah Allah ‘azza wajalla telah berfirman; ‘Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu.’” Beliau bersabda lagi: “Sungguh, saya akan mengajarimu tentang surat yang paling agung yang terdapat di dalam Al Qur`an sebelum kamu keluar dari Masjid.” Kemudian beliau memegang tanganku, dan saat beliau hendak keluar Masjid, saya pun berkata; “Bukankah engkau berjanji; ‘Saya akan mengajarimu surat yang paling agung yang terdapat di dalam Al Qur`an.’ Beliau menjawab; (Yaitu surat) AL HAMDU LILLAHI RABBIL ‘AALAMIIN (Segala puji bagi Allah, Rabb semesta Alam), ia adalah As Sab’u Al Matsani, dan Al Qur`an Al Azhim yang telah diwahyukan kepadaku.” (HR. Al-Bukhari )
b.    Keutamaan Al-Baqarah dan Ali Imran.
Abu Umamah Al Bahili radhiallahu anhu berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Bacalah Al Qur`an, karena ia akan datang memberi syafa’at kepada para pembacanya pada hari kiamat nanti. Bacalah Zahrawain, yakni surat Al Baqarah dan Ali Imran, karena keduanya akan datang pada hari kiamat nanti, seperti dua tumpuk awan menaungi pembacanya, atau seperti dua kelompok burung yang sedang terbang dalam formasi hendak membela pembacanya. Bacalah Al Baqarah, karena dengan membacanya akan memperoleh barokah, dan dengan tidak membacanya akan menyebabkan penyesalan, dan para penyihir tidak mampu membacanya.” (HR. Muslim )
wallohu a’lam bishshowab.

HADIAH BERSHOLAWAT




"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya."
[QS al ahzab 33]

 Semarak peringatan suka cita kelahiran seorang putra Makkah yang mengguncang singgasana penguasa Roma dan memadamkan api sesembahan penguasa Persia akan menggetarkan sanubari para pencinta.

Namanya, "Muhammad SAW" atau "Ahmad SAW", tak akan pernah habis untuk disebut dalam pujian dan sanjungan. Berapa miliar lembaran kertas memuat sejarah kehidupannya yang dicatat oleh sungai-sungai tinta yang seakan tidak ada habisnya.

Seiring dengan mahabbah yang menggelora dalam sanubari, lahirlah tulisan-tulisan pujian dan sanjungan atas Baginda Rasulullah SAW lewat pena para ulama, pewaris beliau, yang termasyhur dengan sebutan "kitab Maulid" atau "risalah Maulid".
Tujuan mereka semata-mata untuk mengabadikan sejarah kehidupan Rasulullah SAW untuk generasi yang akan datang, agar beliau terus dikenal, dicintai, dan diteladani oleh umatnya. Karenanya, karya mereka itu diterima dan diberkahi Allah SWT. Salah satu tanda bahwa suatu amalan diterima oleh Allah, ia kekal di hati masyarakat.

Menurut Abuya Sayyid Muhammad bin Alwi AI-Maliki dalam kitabnya Hawl al-Ihtifal bi Dzikr al-Mawlid an-Nabawiy asy Syarif, saking banyaknya ulama yang menulis kitab Maulid itu, sulit untuk memerincinya. Dan tidak bisa dikatakan ulama yang satu lebih utama daripada yang lainnya. Pada intinya, kitab-kitab tersebut terlahir dari kecintaan yang mendalam dan penuh keikhlasan para penulisnya,
yang lahir dari percikan iman dan kecintaan kepada imam penghulu kebahagiaan dunia dan akhirat, pembawa syafa'at di hari akhirat, Sayyidul Musthafa Muhammad Shallallahu `Alaihi Wasallam.

Anugerah Termulia

Nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada kita adalah nikmat iman dan Islam, yang berarti juga nikmat dijadikan sebagai umat junjungan kita, Nabi Muhammad SAW. Kita juga menyadari, meski begitu berlimpahnya nikmat yang Allah berikan kepada kita, ternyata dosa-dosa kita sangat banyak dan amal shalih kita sangat sedikit.

Tentu ini sangat mengkhawatirkan. Semestinya rasa takut di hati kita lebih besar dibandingkan harapan yang ada. Mau tak mau kita harus mencari sandaran yang dapat menyelamatkan, dan salah satunya yang terpenting adalah bersandar kepada Pemimpin para Rasul Nabi Muhammad SAW.

Cara terbaiknya adalah dengan banyak-banyak membaca shalawat kepada beliau. Terlepas dari keadaan kita, apakah banyak dosa atau tidak, apakah amalnya banyak atau sedikit, tetap saja shalawat sangat penting dan sangat bernilai bagi kita. Mengapa? Karena, selain menunjukkan kecintaan kepada beliau, yang sangat berjasa bagi kita, manfaatnya juga kembali kepada kita, bahkan kitalah sesungguhnya yang lebih mendapatkan keuntungan.

Banyak hadits yang memerintahkan dan mendorong kita untuk bershalawat, bahkan banyak-banyak bershalawat, kepada Nabi SAW. Dalam sebuah hadits dikatakan, "Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, niscaya Allah akan bershalawat (menurunkan rahmat) kepadanya sepuluh kali." [HR  Muslim. ]

Dalam hadits lain dikatakan, "Di mana pun kalian berada, bershalawatlah kepadaku, karena shalawat kalian pasti sampai kepadaku." Demikian pula dalam hadits yang menyebutkan, "Barang siapa bershalawat kepadaku, niscaya shalawatnya sampai kepadaku dan aku akan bershalawat kepadanya, dan selain itu dituliskan baginya sepuluh kebaikan."

Dalam hadits lain dikatakan, "Perbanyaklah shalawat kalian kepadaku pada hari Jum'at, karena shalawat kalian diperlihatkan kepadaku pada setiap hari Jum'at. Maka barang siapa paling banyak shalawatnya kepadaku, berarti paling dekat kedudukannya denganku."

Apakah perintah dan dorongan untuk membaca shalawat hanya terdapat dalam hadits? Tidak, secara tegas ayat Al-Qur'an juga menekankan hal itu.

Allah SWT berfirman yang artinya, "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya."[QS al ahzab 33]

Perhatikanlah, perintah tersebut didahului oleh pernyataan yang tegas bahwa Allah pun hershalawat kepadanya, begitu juga dengan para malaikat-Nya. Tentu makna shalawat Allah berbeda dengan shalawat kita. Terlepas dari hal itu, perintah yang jelas tersebut, yang didahului dengan pernyataan yang tegas itu, pasti mengandung sesuatu yang sangat berarti, dan karenanya harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Pernahkah kita merenungkannya?

Meskipun tampaknya dengan shalawat yang kita ucapkan kita mendoakan Rasulullah SAW, pada hakikatnya kita mendoakan diri sendiri. Selain menandakan kecintaan kepada Rasulullah SAW, dengan bershalawat berarti kita memberikan perhatian terhadap kepentingan kita sendiri..

Marilah kita jadikan bulan Maulid ini sebagai kesempatan untuk menunjukkan kecintaan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, yang salah satu caranya dengan banyak bershalawat kepada beliau. Selanjutnya kita mantapkan tekad kita untuk menjadikannya sebagai wiridan sehari-hari, bukan hanya di bulan Maulid, melainkan juga setiap bulan, bahkan setiap hari, demi mendapatkan keuntungan yang tak terhingga banyaknya.

Di antara hal yang paling agung untuk mendapatkan kemudahan dalam hidup adalah selalu memperbanyak shalawat dan salam kepada Rasulullah SAW. Hal ini dijelaskan sendiri oleh Nabi SAW, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan dari Ubay bin Ka'ab, ia berkata, "Aku berkata kepada Rasulullah SAW, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku banyak bershalawat, lalu berapa yang harus aku berikan dari shalawatku untukmu?'
Beliau menjawab, `Sekehendak yang engkau inginkan.'
Aku bertanya, 'Seperempat?'
Nabi SAW berkata, 'Sekehendakmu. Bila engkau tambah, niscaya itu lebih baik bagimu.'
Aku bertanya lagi, 'Sepertiga?'
Nabi SAW berkata, 'Sekehendakmu. Bila engkau tambahkan lagi, niscaya itu lebih baik bagimu.' Aku tanyakan lagi, 'Setengah?'
Beliau menjawab, `Sekehendakmu. Bila engkau tambah, niscaya itu lebih baik bagimu.'
Lalu aku berkata, 'Aku peruntukkan shalawatku untukmu seluruhnya.'
Beliau pun bersabda, `Jika demikian, kebutuhanmu akan dipenuhi dan dosamu pun akan dihapuskan'." (HR Ahmad, At-Tirmidzi, dan Al-Hakim ).


Di antara faidah dan keutamaan shalawat dan salam kepada Rasulullah SAW yang paling utama adalah sebagai berikut:

1. Shalawat dan salam Allah, para malaikat-Nya, dan para rasul-Nya tercurah bagi yang mengucapkannya.
2. Penghapus kesalahan, penyuci amal, dan pengangkat derajat.
3. Penghapus dosa dan permohonan ampunan dari Rasulullah SAW bagi yang mengucapkannya.
4. Dituliskannya timbangan pahala sebesar Gunung Uhud.
5. Dicukupinya kebutuhan dunia dan akhirat bagi yang menghadiahkan semua pahala shalawatnya kepada Rasulullah SAW.
6. Dihapuskannya kesalahan dan mendapatkan keutamaan melebihi keutamaan membebaskan budak.
7. Keselamatan dari berbagai huru-hara, memperoleh kesaksian dan syafa'at Rasulullah SAW pada hari Kiamat.
8. Mendapatkan ridha dan rahmat Allah SWT, aman dari murka-Nya, dan dimasukkan di bawah naungan 'arsy.
9. Memperberat timbangan kebajikan pada hari Kiamat, melintas di telaga Rasulullah SAW, dan selamat dari kehausan pada hari Kiamat.
10. Bebas dari api neraka, menyeberangi shirath (jembatan di atas api neraka) secepat kilat, dan dapat memandang tempat yang dekat dengan surga sebelum wafat.
11. Mendapatkan banyak bidadari dan kedudukan yang mulia di surga.
12. Lebih utama daripada dua puluh mengikuti peperangan di jalan Allah.
13. Dipenuhinya seratus hajat bahkan lebih dari itu pada setiap satu shalawat.
14. Shalawat merupakan ibadah dan sebagai amal yang paling dicintai Allah SWT.
15.Shalawat merupakan tanda bahwa orang yang mengucapkannya tergolong ke dalam golongan ahli sunnah.
16. Para malaikat akan senantiasa bershalawat kepada yang mengucapkannya selama ia bershalawat kepada Nabi SAW.
17.Shalawat sebagai penghias majelis, menghapuskan kefakiran dan kesukaran hidup.
18. Shalawat membangkitkan optimisme.
19. Orang yang memperbanyak shalawat akan bersama Rasulullah SAW di surga.
20. Shalawat sangat memberikan manfaat bagi orang yang mengucapkannya dan anak-anaknya serta siapa pun yang dihadiahi pahalanya.
21. Shalawat akan mendekatkan kepada Allah dan Rasul-Nya.
22. Shalawat akan menjadi cahaya di dalam kubur, pada hari pembangkitan, dan saat menyeberangi shirath.
23. Shalawat dapat memberikan kemenangan ketika menghadapi musuh dan dapat menyucikan hati dari kemunafikan dan watak yang kasar.
24. Shalawat menghadirkan cinta dan kasih sayang di hati orang-orang yang beriman terhadap pelakunya, sehingga tidak akan membenci orang yang memperbanyak shalawat selain orang munafik yang jelas jelas kenifakannya.
25. Shalawat menjadi wasilah untuk berjumpa dengan Nabi SAW dalam tidur dan lebih dari itu dalam keadaan nyata.
26. Shalawat dapat menghindarkan pelakunya dari cercaan dan fitnah dan merupakan amal yang paling utama dan paling besar manfaatnya di dunia dan akhirat serta pahala yang tidak terbatas.
 Wallahu A’lam bishshowab

Minggu, 13 Mei 2012

MARI MENGHAFAL ALQUR’AN




Sesungguhnya Kami-lah yg menurunkan Al Quran dan Sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya. [Q.S hijr :9]

Hidup  di naungan  Al qur’an adalah ni’mat yang tidak dapat diketahui kecuali oleh orang yang merasakannya .Begitu pula tentunya hafal  Alqur’an [alhafizh] adalah ni’mat yang sangat besar sekali .
Rosululloh saw, bersabda :
Yang artinya: “sebaik baik dari kalian adalah orang yang mempelajari Al qur’an dan mengajarkannya” [H.R bukhori]
sangat menganjurkan   bergaul dengan al qur’an menjaganya tetap lestari adalah suatu ibadah ,pekerjaan yang terpuji ,amal yang mulia dan bisa menentramkan  hati yang gelisah.
Di zaman sekarang ini banyak pendapat yang mengatakan bahwa menghafalkan Alqur’an itu tidak perlu lagi ,menyia - yiakan umur, menghabiskan waktu, kurang pekerjaan dengan alasan bahwa Alqur’an telah banyak dicetak dan dikasetkan. Justru oleh karena itulah perlunya kembali menggalakan lagi dalam bidang menghafal Alqur’an .berapa banyak orang yang beri’tikat tidak baik dan berusaha merusak keaslian Alqur’an baik melalui cetakan mushab ,kaset dan dengan jalan lainnya ,dari sini yang bisa tampil untuk memperbaikinya dan menggoreksinya adalah orang-orang yang penghafal Alqur’an .[alhafizh- hafizhoh]
Sejak masa Nabi dan masa shohabat sampai pada zaman sekarang ini peranan penghafal Alqur’an adalah besar sekali dalam menjaga keaslian Alqur’anul karim.
Yang dimaksud metode  menghafal  Al qur’an di sini adalah menghafal Al qur’an yang terdiri dari 30 juz,mulai dari awal surat Al fatihah sampai dengan surat yang terakhir yaitu surat An- nas.
Sebelum memulai menghafal Al qur’an perlu ada persiapan-persiapan ,buat mempermudah hafalan penghafal,yaitu:
1.Kemauan yang kuat dan ikhlas mencari keridhoan Alloh SWT.
2. Lancar dan baik membaca Al qur’an dengan nadhor {melihat}.
3. Menghafal Al qur’an adalah pekerjaan yang mulia di sisi Alloh,karena pekerjaan   itu merupakan ibadah.
4. Menghafal harus siap menjaga Al qur’an dengan mengulang-ulang hafalannya yang telah hafal,supaya terjaga dengan baik lahir maupun bathin.
5. Mengingat keutamaan dan adab membaca Al qur’an
6.meninggalkan apa yang dilarang Alloh swt serta mengerjakan apa yang diperintahkanNYA [taqwa]sebagaimana nasehat imam waki’ kepada imam syafi’I :
Aku laporkan kepada imam waki’ bahwa hafalanku lemah ,beliau menunjukiku agar aku meningalkan laku ma’siat ,
7.tekun dan sabar dalam menghafal.
8.ada guru sebagai pembimbing [ahlul qur’an] yang sanadnya mutawatir kepada Rosululloh saw.
Beberapa fadhilah keutamaan bagi penghafal alqur’an:
1. Hati seorang individu Muslim tidak kosong dari sesuatu bagian dari kitab Allah 'Azza wa Jalla.
Dalam hadits "Orang yang tidak mempunyai hafalan Al Quran sedikitpun adalah seperti rumah kumuh yang mau runtuh". {Hadits diriwayatkan oleh Tirmizi dari Ibnu Abbas }
2. Memperoleh penghormatan dari Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam.
Dari Abi Hurairah Radiyallahu 'anhu. ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam mengutus satu utusan yang terdiri dari beberapa orang. Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam mengecek kemampuan membaca dan hafalan Al Qur'an mereka: setiap laki-laki dari mereka ditanyakan sejauh mana hafalan Al-Qur'an-nya. Kemudian seseorang yang paling muda ditanya oleh Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam :"Berapa banyak Al Quran yang telah engkau hafal, hai Fulan?" ia menjawab: aku telah menghafal surah ini dan surah ini, serta surah Al-Baqarah. Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam kembali bertanya: "Apakah engkau hafal surah Al-Baqarah?" Ia menjawab: Betul. Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam bersabda:"Pergilah, dan engkau menjadi ketua rombongan itu!". Salah seorang dari kalangan mereka yang terhormat berkata: Demi Allah, aku tidak mempelajari dan menghafal surah Al-Baqarah semata karena takut aku tidak dapat menjalankan isinya. Mendengar komentar itu, Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam bersabda: "Pelajarilah Al Qur'an dan bacalah, karena perumpamaan orang mempelajari Al Quran  dan membacanya, adalah seperti tempat bekal perjalanan yang diisi dengan minyak misik, wanginya menyebar ke mana-mana. Sementara orang yang mempelajarinya kemudian dia tidur -dan dalam dirinya terdapat hafalan Al Qur'an- adalah seperti tempat bekal perjalanan yang disambungkan dengan minyak misik"
nikmat dan kebaikan"
3. Dapat membahagiakan kedua orang tua, sebab orang tua yang memiliki anak penghapal Al Qur'an memperoleh pahala khusus.
Sabda Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam:
"Dari  Buraidah Al Aslami Radiyallahu 'anhu, ia berkata bahwasanya ia mendengar Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam bersabda: "Pada hari kiamat nanti, Al Qur'an akan menemui penghafalnya ketika penghafal itu keluar dari kuburnya. Al Qur'an akan berwujud seseorang dan ia bertanya kepada penghafalnya: "Apakah anda mengenalku?". Penghafal tadi menjawab; "saya tidak mengenal kamu." Al Qur'an berkata; "saya adalah kawanmu, Al Qur'an yang membuatmu kehausan di tengah hari yang panas dan membuatmu tidak tidur pada malam hari. Sesungguhnya setiap pedagang akan mendapat keuntungan di belakang dagangannya dan kamu pada hari ini di belakang semua dagangan. Maka penghafal Al Qur'an tadi diberi kekuasaan di tangan kanannya dan diberi kekekalan ditangan kirinya, serta di atas kepalanya dipasang mahkota perkasa. Sedang kedua orang tuanya diberi dua pakaian baru lagi bagus yang harganya tidak dapat di bayar oleh penghuni dunia keseluruhannya. Kedua orang tua itu lalu bertanya: "kenapa kami di beri dengan pakaian begini?". Kemudian di jawab, "kerana anakmu hafal Al Qur'an. "Kemudian kepada penghafal Al Quran tadi di perintahkan, "bacalah dan naiklah ketingkat-tingkat syurga dan kamar-kamarnya." Maka ia pun terus naik selagi ia tetap membaca, baik bacaan itu cepat atau perlahan (tartil). 

4. Penghafal Al Qur'an adalah keluarga Allah 'Azza wa Jalla.
Sabda Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam:
"Dari Anas Radhiyallahu 'anhu Ia berkata bahawa Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam bersabda, "Sesungguhnya Allah itu mempunyai keluarga yang terdiri dari manusia." Kemudian Anas berkata lagi, "Siapakah mereka itu wahai Rasulullah. Baginda menjawab: "Ia itu ahli Qur'an (orang yang membaca atau menghafal Al- Qur'an dan mengamalkan isinya).Mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang yang istimewa bagi Allah.
5. Disayangi oleh Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam.
Sabda Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam:
"Dari  Jabir Bin Abdullah Radhiyallahu 'anhu Bahawa Nabi Shallallahu 'alayhi wasallam menyatukan dua orang dari  orang-orang yang gugur dalam perang uhud dalam satu liang lahad. Kemudian nabi Shallallahu 'alayhi wasallam bertanya, "dari mereka berdua siapakah paling banyak hafal Al Qur'an?" apabila ada orang yang dapat menunjukkan kepada salah satunya, maka Nabi Shallallahu 'alayhi wasallam memasukkan mayat itu terlebih dahulu ke liang lahad."

6. Dapat memberi syafa'at kepada keluarga.
Sabda Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam:
"Dari  Ali Bin Abi Thalib Karramallahu Wajhahu: "Barangsiapamembaca Al Qur'an dan menghafalnya, maka Allah akan memasukkannya kedalam surga dan memberikannya hak syafaat untuk sepuluh anggota keluarganya di mana mereka semuanya telah di tetapkan untuk masuk neraka."

7. Merupakan bekal-bekal yang terbaik.
Sabda Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam:
"Dari  Jabir bin Nufair, katanya Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam bersabda; "Sesungguhnya kamu tidak akan kembali menghadap Allah dengan membawa sesuatu yang paling baik daripada sesuatu yang berasal dari-Nya yaitu Al Qur'an.

wallohu a’lam bishshowab.

Kamis, 10 Mei 2012

PEDOMAN BAGI PARA MUTAHAFFIDZI AL-QUR’AN



PEDOMAN BAGI PARA MUTAHAFFIDZI AL-QUR’AN
I. SYARAT-SYARAT DITERIMANYA SEBAGAI MUTAHAFFIDZI AL-QUR’AN
a) Harus mempunyai kemauan,minat yang penuh untuk menghafal Al-Qur’an.
b) Sanggup memenuhi peraturan-peraturan pondok \rumah tahfidh dan tidak berpindah tempat sebelum selesai dan tamat menghafal Al-Qur’an.
c) Mempunyai bekal cukup selama menghafal Al-Qur’an kecuali bagi santri yang telah di izinkan oleh pengasuh.
d) Berbadan sehat yang tidak mengganggu jalannya menghafal Al-Qur’an
e) Di serahkan dan mendapat restu dari orang tua atau wali yang berhak.



II. METODE ATAU CARA MENGHAFALKAN AL-QUR’AN
1. BELAJAR DENGAN TAHQIQ
Bagi santri yang berminat menghafal Al-qur’an harus belajar membaca Al-Qur’an Bilgho’ib dengan Tahqiq dan Surat Al-Fatihah, At-Tahiyyat, Surat An-Naas, sampai selesai 1 juz(juz 30).
2. BELAJAR DENGAN BINNADZOR DAN TARTIL
a) Bagi santri yang kurang lancar membaca Al-Qur’an, harus belajar membaca Al-Qur’an Binnadzor dengan tartil dari juz 1 s/d juz 30.
b) Setelah lancar Binnadzor, menghafal surat-surat penting ya’itu Surat Al-Kahfi, As-Sajdah, Al-Munafiqun, Al-Mulk, Ar-rohman, Al-dukhon, Alwaqi’ah, Yasin, Ad-dahr.
c) Bagi santri yang sudah lancar membaca juz ‘Amma Bilgho’ib dengan Tahqiq diperbolehkan menghafal Al-Qur’an di mulai dari juz 1 sampai khatam juz 30.


3. BELAJAR AL-QUR’AN DENGAN TAHFIDZ
a) Para Mutahaffidz harus menghafal Al-Qur’an 1 ayat demi 1 ayat
b) Setelah hafal 2 ayat maka di rangkaikan dengan ayat ke-1 shohifah (halaman), maka di ulang-ulang sampai lancar.
c) Sehari di batasi 1 shohifah,2shohifah ,atau 3 shohifah menurut batas kemampuan para Mutahaffidzi masing-masing.
d) Hari berikutnya Mutahaffidz harus menyetorkan atau mengulangi pelajaran atau hafalan yang terdahulu di hadapan pengasuh, mulai dari shohifah 1, shohifah 2, sampai 1 juz ,menurut banyak sedikitnya hafalan yang di peroleh.
e) Setelah mengulangi hasil hafalannya, kemudian menghafal pelajaran atau hafalan-hafalan yang terdahulu di hadapan pengasuh,
f) Setelah mengulangi hasil hafalannya ,kemudian menghafalkan pelajaran atau hafalannya yang terakhir yang di sebut dengan istilah”LOH” dan tidak boleh menambah LOH, sebelum LOH yang terakhir di baca dengan lancar.
g) Apabila sudah hafal dengan lancar,maka boleh di tambah oleh pengasuh 1 shohifah, 2 shohifah sampai 3 shohifah,menurut kemampuan masing-masing Mutahaffidz. Demikian seterusnya


III. CARA PEMELIHARA’AN HAFALAN AL-QUR’AN
1. Setiap ba’da subuh para Mutahaffidz harus menderes dan mengulang-ulang hafalan dan LOH yang akan di baca di hadapan pengasuh.
2. Setiap ba’da maghrib para Mutahaffidz harus Mudarosah bersama temannya yang setaraf 2 orang, dengan bacaan ayat-perayat, shohifah pershohifah, perempatan dan demikian seterusnya.
3. Setiap hari jum’at para Mutahaffidz harus mengikuti Mudarosah bersama-sama dalam 1 majelis yang di asuh oleh pengasuh dan di selingi dengan keterangan-keterangan tentang ilmu Qiro’atul Qur’an.
4. Setiap sebulan sekali di adakan khotaman Al-Qur’an yang di baca dengan Tartil secara bergantian, tiap orang 1 shohifah.
5. Setiap 6 bulan sekali[rojab dan shofar] di adakan Muroja’ah/ulangan,setiap Mutahaffidzi harus dapat membaca atau mengulangi hasil hafalan keseluruhannya mulai dari permula’an sampai habis LOH nya.
6. Setiap bulan ramadhan Mutahaffidz di haruskan:
a. Menetap di pondok sampai tanggal 21 ramadhan,yakni setelah selesai mengikuti peringatan Nuzulul Qur’an.
b. Mengikuti sholat Tarawih secara berkelompok,dengan membaca alqur’an Bilgho’ib dalam sholat tersebut sampai khotam 30 juz setiap malam satu setengah juz.
c. Mengikuti Mudarosah atau Tadarus Al-Qur’an sampai 30 juz dengan Tartil secara bergantian yang di asuh oleh pengasuh ba’da sholat tarowih.
d. Menyetorkan dan menambah hafalannya sebagaimana bulan-bulan biasa.


IV. PELAJARAN LAIN PARA MUTAHAFFIDZ AL-QUR’AN.
1. Setiap para Mutahaffidz Al-Qur’an harus mengikuti pelajaran-pelajaran yang di selenggarakan di pondok menurut tingkatannya masing-masing.
2. Para Mutahaffidz di perbolehkan mengikuti pelajaran di luarpondok, selama tidak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan peraturan dalam pondok.
V. TANDA TAMAT MENGHAFAL AL-QUR’AN
1. Mutahaffidz Al-Qur’an di anggap telah tamat belajar menghafal Al-Qur’an, Apabila telah mampu membaca Al-Qur’an Bilgho’ib secara keseluruhan 30 juz,sendiri dalam 1 hari.
2. Para Mutahaffidz di anggap tamat menghafal Al-Qur’an bila menerima Syahadah/ijazah yang di tanda tangani oleh pengasuh.
Khodimul Qur’an
[ Ahmad Muslimin ]